Senin, 06 Juni 2011
My Adventure Slideshow
My Adventure Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ My Adventure Slideshow ★ to Pontianak. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"
Rabu, 01 Juni 2011
MY ANGEL
Everywhere, everytime.. you always watch over me
Your kindness make me safe..
My angel,.... never leave me
Your kindness make me safe..
My angel,.... never leave me
GO HELL
Never understand
My damn
My foolish
waited so long
No result
I hate me myself
I hate everything
Just two words
GO HELL
Senin, 30 Mei 2011
TO REMEMBER YOU
Remembering the past stories
When togetherness be mine and yours
Makes me to stay longer
Old and older
There has never been the slightest to forget the day without you
In fact, even if I did not see you, I always write about you In my poems and song lyrics
You ever play the guitar for me withmy creature's song
But you do not always realize the meaning of it all
And now you're really loose, While she was in our lives. You left me, without remember me at all
But, let I realize everything about you
You're not the best for me
There is only one regret I can not forget. I Want to delete it
but my brain is always thinking about
Because it is a very bad mistake. Sorry and very sorry
If I could turn the current time
Ah, let the time to help me to forget about it
I just hope, you understand all that has passed
When togetherness be mine and yours
Makes me to stay longer
Old and older
There has never been the slightest to forget the day without you
In fact, even if I did not see you, I always write about you In my poems and song lyrics
You ever play the guitar for me withmy creature's song
But you do not always realize the meaning of it all
And now you're really loose, While she was in our lives. You left me, without remember me at all
But, let I realize everything about you
You're not the best for me
There is only one regret I can not forget. I Want to delete it
but my brain is always thinking about
Because it is a very bad mistake. Sorry and very sorry
If I could turn the current time
Ah, let the time to help me to forget about it
I just hope, you understand all that has passed
GREAT CREATURE
Green n shiny in the morning
A line of light gets in the river
Sparkling without restriction
Birds singing nicely while moving one branch to other
The leaves fall down while dancing
Getting into the waterfall while singing
so beautiful, so peaceful
Great creature
A line of light gets in the river
Sparkling without restriction
Birds singing nicely while moving one branch to other
The leaves fall down while dancing
Getting into the waterfall while singing
so beautiful, so peaceful
Great creature
RAHASIA FAJAR DI BUKIT ASA
Titik embun membasahi rerumputan. Suara ayam jantan bersahut-sahutan. Senandung azan subuh merdu sekali terdengar di telingaku. Ku buka jendela kamarku. Ku hirup udara segara sedalam-dalamnya. Terasa ke hati dan mengalir ke seluruh nadi. Ku langkahkan kaki ke kamar mandi tuk berwudhu. Menjalankan kewajiban sebagai umat muslim di waktu subuh. Lima menit telah berlalu. Kurapikan mukena lalu tempat tidur. Kulangkahkan kaki menuju halaman rumah. Duduk di kursi yang dibuat ayahku 20 tahun yang lalu. Tetap kokoh. Sayang, warnanya telah memudar. Tempat santai favorit keluargaku yang penuh kenangan. Tempat aku, ayah, ibu, dan kak Arya bernostalgia sambil menikmati indahnya fajar yang muncul dari balik bukit. Tanpa beban.
Bukit Asa. Itulah sebutan untuk bukit yang berhadapan dengan rumah kami, masih belum terjamah oleh tangan jahil manusia. Berdiri kokoh, hijau dan memukau. Dan sang fajar muncul dibalik kekokohannya secara perlahan tapi pasti.
Telah banyak harapan-harapan yang disampaikan oleh kedua orangtua kami sambil menikmati indahnya fajar di pagi hari. Dulu, aku sering bertanya kepada ayah dan ibu. Mengapa sang fajar selalu muncul lewat bukit itu? Kenaapa tidak dari arah yang lain? Ibu hanya tersenyum mendengar pertannyaanku dan ayah selalu menjawabnya dengan kata-kata yang susah dimengerti menurut anak seumuranku.
“Ada banyak hal yang dapat kau pelajari dari fajar dan bukit ini.”
“Apa itu ayah” tanyaku.
“Tentang kebesaran dan kekuasaan Tuhan, tentang arti sebuah kehidupan. Tuk hari ini dan masa yang akan datang.
“Aku tak mengerti,” jawab aku dan kak Arya kompak.
“Dan kalian akan mengerti setelah kalian mulai dewasa dan mampu berpikir tentang arti sebuah kehidupan.”
Melihat sang fajar adalah rutinitas kami sekeluarga, sebelum aku dan kak Arya berangkat ke sekolah, sebelum ayah dan ibu pergi ke sawah. Tapi, menikmatinya dalam keluarga yang utuh itu tidaklah selama-lamanya.
* * *
“Ayah. . ., kenapa ibu pergi meninggalkan kita? Apa ia sudah tidak sayang lagi dengan kita?” tanyaku.
“Iya, tanpa pamit sama sekali,” sambung kak Arya.
“Bukan begitu Arya, Arina. Ibu pergi dengan tujuan mulia, supaya kehidupan kita menjadi lebih baik. Supaya kalian bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
“Apakah dia akan pulang secepatnya?”
“Secepatnya, oleh karena itu kalian harus banyak berdoa, pinta kepada Allah agar ibu cepat pulang. Dan kita akan menyambutnya dengan hangat. Sehangat sinar fajar menyinari bumi di pagi hari. Sehangat kecupan dan belaiannya saat memanjakan kalian.
“Secepatnya itu kapan ayah?” tanya kak Arya kembali.
“Lihat fajar itu. Setiap hari ia berjanji kepada bukit, langit dan alam untuk menyinari seisi muka bumi. Ia selalu menepati janjinya walaupun mendung datang.. Ia berjanji akan menjadi matahari yang memberikan kehidupan. Sinarnya tak akan pernah hilang walaupun hanya seberapa yang dapat dibagikannya ke alam semesta ini. Begitu juga dengan ibu. Ia akan tetap datang…
Pagi itu, kami bertiga termenung sambil menatap sang fajar. Kebersamaan yang selama ini terjalin telah berkurang. Ibuku telah pergi ke negara jiran, Malaysia. Demi sebuah cita-cita. Ia ingin cita-citanya yang terkubur tumbuh lagi. Ia ingin kamilah yang menjadi penerus segala impian dan sebagai pencerah kelurga.
Menjadi TKI bukanlah pilihan yang tepat bagi semua orang untuk hidup layak dan menjadi berkecukupan dalam segala hal. Tetapi niat ibu terlalu kuat dan tak dapat diurungkan. Ia berpendapat tidak ada tempat kerja yang bisa memberikan penghasilan besar selain di Malaysia. Apalagi tetangga-tetangga kami telah banyak yang berhasil membawa ringgit ke tanah air sehingga mampu untuk membeli segala apa yang mereka inginkan. Beda dengan ibu, para tetanggaku mengirimkan anak-anak mereka ke negara jiran setamat SD bahkan ada yang belum bisa baca-tulis. Dengan ijazah sekolah rendah bahkan modal tenaga aja mereka berangkat dengan sebuah tujuan, mengubah nasib. Sedangkan ibu, ia tidak mau mengubah keluarganya dengan mengorbankan anak-anaknya untuk menjadi TKI. Ia ingin mengubah kehidupan keluarga melalui anak yang berpendidikan tinggi. Ia ingin kami menjadi anak yang bermanfaat bagi semua orang dan mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari orangtuanya sendiri.
Ayah bilang, ibu meninggalkan kami sebelum fajar muncul. Ia hanya bisa mengecup dahi kami sambil menahan air matanya agar tidak jatuh hingga akhirnya membangunkan kami. Ia berpesan kepada ayah untuk selalu menjaga, mendidik, memperhatikan sekolah dan kesehatan kami. Ibu tidak ingin kami melihat kepergiannya. Ia takut kalau hal itu hanya akan menunda kepergiannya.
“Ibu menitipkan surat untuk kalian.”
Aku dan kak Arya membuka amplop itu. Surat yang penuh arti. Walaupun hanya berupa gambar-gambar. Emang, ibu tidak bisa membaca dan menulis, ia hanya bisa menghitung dan menggambar. Untuk menuangkan perasaannya, ia curahkan dalam bentuk gambar yang sempurna.
Terlukis ada dua orang anak memakai seragam sekolah yang sedang berpamitan dengan ayahnya, tiga orang sedang salat berjamaah, di bagian kertas lain ada gadis kecil yang sedang mengepel lantai, anak laki-laki yang sedang menimba air dan seorang bapak yang sedang masak. Dan di sisi lainnya lagi terlukis sekeluarga yang terdiri dari ayah dan dua orang anaknya sedang bersantai sambil menikmati indahnya fajar pagi. Kami bertiga terharu melihatnya, tak terasa air mataku menetes ke pipi. Ibu… terima kasih atas nasihatnya, gumamku.
Kulihat ayah termenung sambil menatap fajar yang semakin meninggi. Sepertinya ada sorotan penyesalan dari matanya. Ayah memang tidak bisa menahan kepergian ibu. Ia sadar kalau ia tidak bisa menopang perekonomian keluarga seutuhnya. Ia sadar kalau ia tidak bisa berbuat banyak hal semenjak ada gangguan di ginjalnya. Ginjal sebelah kirinya kurang berfungsi dengan baik. Walhasil ayah mudah sekali lelah sehingga ia tidak bisa bekerja penuh. Ibulah yang selama ini membantu ayah dengan mencari penghasilan seperti menjual kue dan membantu mengurus sawah tetangga kami. Sekarang, karena keadaan yang sangat mendesak, dimana kak Arya akan melanjutkan ke SMA dan aku ke SMP, demi membiayai sekolah kami berdua dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ibu rela berpisah dengan kami dengan harapan mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Ibu tidak ingin kami sekolah hanya sampai itu saja. seandainya itu terjadi, ibu akan menyesali seumur hidupnya bahkan sampai mati, kata ayah pada suatu hari.
Setelah sebulan kepergian ibu, barulah kami terbiasa tanpanya. Kami berbagi tugas dalam mengurus rumah. Ibu selalu mengirim uang setiap bulan dan memberikan kabarnya melalui surat dua dimensinya. Hasilnya memang lumayan untuk membiayai hidup kami bertiga dan membayar uang sekolah kami. Ayah juga tetap bekerja walaupun penghasilannya tidak seberapa. Uang pemberian ibu ayah kelola dengan baik sehingga ia bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Tapi hal ini tidak berlangsung lama, setelah hampir setahun bekerja, tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali dari ibu. Hampir 3 bulan lamanya. Kami sekeluarga menjadi sangat khawatir. Ayah dengan usahanya berupaya bertanya ke agen yang membawa ibu menjadi TKI di Malaysia. Tapi apa yang didapatkan? Jawaban yang diterima oleh ayah hanya membuatnya menjadi sakit. “Istri Bapak bukan menjadi tanggung jawab kami lagi, kalau mau tahu cari aja sendiri.” Ayah menjadi sangat kecewa bahkan frustasi. Ayah juga sudah berupaya bertanya ke keluarga yang diberangkatkan bersama ibu, tapi hasilnya nihil.
Ayah terlihat sangat hampa. Semenjak kejadian itu, ayah sering murung, tidak mau makan hingga penyakitnya kambuh lagi. Aku dan kak Arya sangat terpukul. Bersyukurlah kami telah dididik menjadi anak yang sabar dan tabah dalam menghadapi masalah. Kak Arya berusaha menggantikan posisi ayah, sepulang sekolah ia berusaha keras untuk mendapatkan uang dengan mencari upahan kesana kemari. Aku bertindak sebagai ibu rumah tangga dan mengurus ayah. Kami berdua selalu berusaha untuk selalu menghibur ayah dan menjadi penyemangat dalam dirinya.
Syukurlah kondisi ini tidak berlangsung lama. Ayah mulai bersemangat lagi menjalankan aktivitas sehari-harinya. Ia sudah tampak sehat. Aku dan kak Arya sangat senang. Kami sekarang bisa fokus lagi untuk menghadapi ujian sekolah kami. Ah… matahari yang terbenam sekarang muncul lagi….
* * *
“Arya, Arina, ada yang ingin ayah katakan.”
“Apa itu ayah?”
“Sudah hampir setahun kita belum mendapatkan kabar dari ibu. Ayah berniat mencarinya kesana…”
“Ke Malaysia ayah? Bagaimana dengan kami? Ayah tega membiarkan kami disini berdua? Membiarkan kami menjadi anak yang terlantar? Ayah…cukup sudah kami kehilangan ibu..dan kami tidak ingin kehilangan ayah lagi…” wajah kak Arya merah padam.
“Hanya ini yang bisa ayah lakukan,” jawaban ayah terdengar dingin dan kaku. Ayah tidak berniat membuat kalian menjadi terlantar. Ayah telah mempersiapkan segala yang terbaik untuk kalian, masa depan kalian. Ayah mohon, terimalah keputusan ini.”
“Tidak ada keputusan yang lebih baik selain tetap bersama dengan ayah dan ibu,” jawabku.
Ayah menghela nafas dan bangkit dari kursinya, meninggalkan kami berdua. Ada rasa penyesalan di hatiku setelah berkata seperti itu kepada ayah. Aku telah membuatnya terluka. Maafkan aku ayah.. aku tak bermaksud seperti itu.
Sang fajar semakin meninggi meninggalkan balik bukit. Memulai aktivitasnya sebagai penguasa bumi di siang hari, yang memberikan cahaya kehidupan di alam semesta.
Penyakit ayah kambuh lagi. Ia terbaring lemas di tempat tidurnya. Rambutnya yang mulai memutih serta badan yang semakin kurus menambah kesenduan di tubuhnya. Di samping ranjangnya tegeletak foto kami sekeluarga. Terlihat sangat bahagia. Ku harap suasana seperti itu akan terulang lagi.
“Bagaimana dengan keputusan kalian?” tanya ayah lagi.
Kak Arya masuk ke dalam kamar dengan membawa bungkusan yang berisi obat.
“Ayah tidak membutuhkan obat ini. Ayah hanya ingin kalian menerima keputusan ayah…” nada suara ayah meninggi.
“Baiklah ayah… tapi ayah harus sembuh,” pintaku.
“Bulan depan, tante Asti dan tante Ayu akan kemari. Mereka akan menjemput kalian. Ayah mempercayakan kalian pada mereka. Tante-tantemu itu orang yang baik. Oleh karena itu jangan kecewakan mereka. Ayah harap kalian berdua betah disana. Belajar dan bekerja keras. Jangan lupa membalas budi baik mereka nanti. Wujudkan impian ayah dan ibu. Satu hal lagi, jangan pernah kembali kesini sebelum kalian berhasil,” sederet nasihat yang ayah sampaikan kepada kami.
Ku pandang wajah ayah dalam-dalam. Sempat terpikir olehku, apakah selama ini ayah benar-benar menyayangi kami? Tapi aku tepis jauh-jauh pikiran itu. Ibu… andaikan kau tak pergi meninggalkan kami. Ibu… andaikan lukisan dua dimensimu selalu ada buat kami setiap bulannya. Ibu.. kembalilah. Rindukanlah sang fajar di bukit asa itu.
***
Gerimis turun membasahi seisi bumi. Ku intip fajar dari jendela, tak terlihat. Langit pun terlihat mendung. Mendung seperti hatiku. Hari ini adalah hari terakhir aku dan kak Arya berada di rumah ini. Aku hanya menatap bukit tanpa sang fajar. Setelah puas, kupandang seluruh isi rumah tanpa melewatkan satu bagianpun. Aku akan merindukan sang fajar dan bukitnya, aku akan merindukan rumah ini, jerit hatiku.
“Sudah siap,” kak Arya membuyarkan lamunanku.
“Sudah, dimana ayah?”
Ada di ruang tamu, tante Asti dan tante Ayu sudah datang. Dek, ternyata kita juga berpisah. Dan kakak minta maaf kalau selama ini kakak banyak berbuat salah.
Mataku nanar. Langsung aku memeluk kak Arya. Aku sudah kehilangan kata-kata. Tuhan.. jerit hatiku. Beginikah takdir kami. Mengapa pada akhirnya kami berpisah? Bahkan dengan saudaraku.
Aku dan kak Arya menuju ruang tamu. Kulihat tante Asti dan tante Ayu tersenyum manis kepada kami berdua.
Ku cium tangan ayah berharap dan ia akan membatalkan keputusannya itu. Ternyata hanya harapan sia-sia. Ayah memelukku dan kak Arya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Berat sekali melangkahkan kaki ini. Ku pandang bukit Asa, masih berdiri kokoh. Aku akan kembali dengan harapan-harapan ayah dan ibu yang telah menjadi nyata. Kami akan berkumpul bersama dan bernostalgia bersama fajar yang muncul di balik bukit asa. Selamat tinggal ayah, fajar, selamat tinggal bukit asa…
* * *
Aku terbangun dari lamunanku. Sang fajar sudah semakin meninggi dan berubah menjadi sang surya. Bukit di depanku ini tetaplah sebuah bukit yang kokoh dan hijau. Setia menungguku hingga aku berada disini lagi dan telah berhasil menjadi apa yang diimpikan ayah dan ibuku. Tapi dimana mereka? Kenapa belum kembali? Dan kemana kak Arya? Aku masih sendirian.
Aku ingin sekali melihat ibu dan ayah bangga padaku. Arina, seorang anak petani yang berhasil menjadi dosen FKIP termuda di sebuah universitas ternama di Kota Harapan. Aku terus menunggu dan menunggu.
Ternyata penantianku tidaklah sia-sia. Dari kejauhan aku melihat sesosok pria yang turun dari Mercedes Benz-nya. Berpakaian rapi dan terlihat sangat macho. Kak Arya, batinku membisik. Dengan senyumnya yang khas membuatku menjadi yakin kalau itu adalah kak Arya. Dan benar saja, ia langsung memelukku. Kerinduan yang bertahun-tahun terpendam akhirnya meledak juga.
Kak Arya menyodorkan sebuah sebuah amplop kepadaku. Tanpa banyak tanya langsung ku buka Aku sangat bahagia. Ada foto ayah dan ibu dengan latar belakang menara Petronas. Ternyata usaha ayah tak sia-sia untuk menyatukan kembali keluarga ini. Bahagia yang kurasakan tak terkira. Sampai-sampai aku hampir lupa untuk membaca isi surat di dalamnya. Tapi isi suratnya bukanlah berasal dari ayah dan ibu melainkan dari KBRI di Kuching.
Kuching, 28 April 2009
Kepada: Saudara Arya
di Desa Asa
Sehubungan dengan datangnya surat ini, kami pihak KBRI menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya kedua orangtua saudara dalam tragedi jatuhnya bis di jurang Damai, Kuching. Kami harap saudara diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Aku tersentak. Ya Allah.. mengapa kau tidak mengijinkan kedua orangtuaku merasakan buah dari penantiannya selama ini..Mengapa ini terjadi. Mereka telah pergi selama-lamanya meninggalkan dunia ini. Tiba-tiba pandanganku gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Terdengar sayup-sayup suara kak Arya memanggilku dan akhirnya tidak terdengar sama sekali. Di dalam ketidaksadaran aku melihat ayah dan ibu duduk diantara kami sambil menikmati indahnya fajar di bukit Asa. Nyatakah ini…
Bukit Asa. Itulah sebutan untuk bukit yang berhadapan dengan rumah kami, masih belum terjamah oleh tangan jahil manusia. Berdiri kokoh, hijau dan memukau. Dan sang fajar muncul dibalik kekokohannya secara perlahan tapi pasti.
Telah banyak harapan-harapan yang disampaikan oleh kedua orangtua kami sambil menikmati indahnya fajar di pagi hari. Dulu, aku sering bertanya kepada ayah dan ibu. Mengapa sang fajar selalu muncul lewat bukit itu? Kenaapa tidak dari arah yang lain? Ibu hanya tersenyum mendengar pertannyaanku dan ayah selalu menjawabnya dengan kata-kata yang susah dimengerti menurut anak seumuranku.
“Ada banyak hal yang dapat kau pelajari dari fajar dan bukit ini.”
“Apa itu ayah” tanyaku.
“Tentang kebesaran dan kekuasaan Tuhan, tentang arti sebuah kehidupan. Tuk hari ini dan masa yang akan datang.
“Aku tak mengerti,” jawab aku dan kak Arya kompak.
“Dan kalian akan mengerti setelah kalian mulai dewasa dan mampu berpikir tentang arti sebuah kehidupan.”
Melihat sang fajar adalah rutinitas kami sekeluarga, sebelum aku dan kak Arya berangkat ke sekolah, sebelum ayah dan ibu pergi ke sawah. Tapi, menikmatinya dalam keluarga yang utuh itu tidaklah selama-lamanya.
* * *
“Ayah. . ., kenapa ibu pergi meninggalkan kita? Apa ia sudah tidak sayang lagi dengan kita?” tanyaku.
“Iya, tanpa pamit sama sekali,” sambung kak Arya.
“Bukan begitu Arya, Arina. Ibu pergi dengan tujuan mulia, supaya kehidupan kita menjadi lebih baik. Supaya kalian bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
“Apakah dia akan pulang secepatnya?”
“Secepatnya, oleh karena itu kalian harus banyak berdoa, pinta kepada Allah agar ibu cepat pulang. Dan kita akan menyambutnya dengan hangat. Sehangat sinar fajar menyinari bumi di pagi hari. Sehangat kecupan dan belaiannya saat memanjakan kalian.
“Secepatnya itu kapan ayah?” tanya kak Arya kembali.
“Lihat fajar itu. Setiap hari ia berjanji kepada bukit, langit dan alam untuk menyinari seisi muka bumi. Ia selalu menepati janjinya walaupun mendung datang.. Ia berjanji akan menjadi matahari yang memberikan kehidupan. Sinarnya tak akan pernah hilang walaupun hanya seberapa yang dapat dibagikannya ke alam semesta ini. Begitu juga dengan ibu. Ia akan tetap datang…
Pagi itu, kami bertiga termenung sambil menatap sang fajar. Kebersamaan yang selama ini terjalin telah berkurang. Ibuku telah pergi ke negara jiran, Malaysia. Demi sebuah cita-cita. Ia ingin cita-citanya yang terkubur tumbuh lagi. Ia ingin kamilah yang menjadi penerus segala impian dan sebagai pencerah kelurga.
Menjadi TKI bukanlah pilihan yang tepat bagi semua orang untuk hidup layak dan menjadi berkecukupan dalam segala hal. Tetapi niat ibu terlalu kuat dan tak dapat diurungkan. Ia berpendapat tidak ada tempat kerja yang bisa memberikan penghasilan besar selain di Malaysia. Apalagi tetangga-tetangga kami telah banyak yang berhasil membawa ringgit ke tanah air sehingga mampu untuk membeli segala apa yang mereka inginkan. Beda dengan ibu, para tetanggaku mengirimkan anak-anak mereka ke negara jiran setamat SD bahkan ada yang belum bisa baca-tulis. Dengan ijazah sekolah rendah bahkan modal tenaga aja mereka berangkat dengan sebuah tujuan, mengubah nasib. Sedangkan ibu, ia tidak mau mengubah keluarganya dengan mengorbankan anak-anaknya untuk menjadi TKI. Ia ingin mengubah kehidupan keluarga melalui anak yang berpendidikan tinggi. Ia ingin kami menjadi anak yang bermanfaat bagi semua orang dan mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari orangtuanya sendiri.
Ayah bilang, ibu meninggalkan kami sebelum fajar muncul. Ia hanya bisa mengecup dahi kami sambil menahan air matanya agar tidak jatuh hingga akhirnya membangunkan kami. Ia berpesan kepada ayah untuk selalu menjaga, mendidik, memperhatikan sekolah dan kesehatan kami. Ibu tidak ingin kami melihat kepergiannya. Ia takut kalau hal itu hanya akan menunda kepergiannya.
“Ibu menitipkan surat untuk kalian.”
Aku dan kak Arya membuka amplop itu. Surat yang penuh arti. Walaupun hanya berupa gambar-gambar. Emang, ibu tidak bisa membaca dan menulis, ia hanya bisa menghitung dan menggambar. Untuk menuangkan perasaannya, ia curahkan dalam bentuk gambar yang sempurna.
Terlukis ada dua orang anak memakai seragam sekolah yang sedang berpamitan dengan ayahnya, tiga orang sedang salat berjamaah, di bagian kertas lain ada gadis kecil yang sedang mengepel lantai, anak laki-laki yang sedang menimba air dan seorang bapak yang sedang masak. Dan di sisi lainnya lagi terlukis sekeluarga yang terdiri dari ayah dan dua orang anaknya sedang bersantai sambil menikmati indahnya fajar pagi. Kami bertiga terharu melihatnya, tak terasa air mataku menetes ke pipi. Ibu… terima kasih atas nasihatnya, gumamku.
Kulihat ayah termenung sambil menatap fajar yang semakin meninggi. Sepertinya ada sorotan penyesalan dari matanya. Ayah memang tidak bisa menahan kepergian ibu. Ia sadar kalau ia tidak bisa menopang perekonomian keluarga seutuhnya. Ia sadar kalau ia tidak bisa berbuat banyak hal semenjak ada gangguan di ginjalnya. Ginjal sebelah kirinya kurang berfungsi dengan baik. Walhasil ayah mudah sekali lelah sehingga ia tidak bisa bekerja penuh. Ibulah yang selama ini membantu ayah dengan mencari penghasilan seperti menjual kue dan membantu mengurus sawah tetangga kami. Sekarang, karena keadaan yang sangat mendesak, dimana kak Arya akan melanjutkan ke SMA dan aku ke SMP, demi membiayai sekolah kami berdua dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ibu rela berpisah dengan kami dengan harapan mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Ibu tidak ingin kami sekolah hanya sampai itu saja. seandainya itu terjadi, ibu akan menyesali seumur hidupnya bahkan sampai mati, kata ayah pada suatu hari.
Setelah sebulan kepergian ibu, barulah kami terbiasa tanpanya. Kami berbagi tugas dalam mengurus rumah. Ibu selalu mengirim uang setiap bulan dan memberikan kabarnya melalui surat dua dimensinya. Hasilnya memang lumayan untuk membiayai hidup kami bertiga dan membayar uang sekolah kami. Ayah juga tetap bekerja walaupun penghasilannya tidak seberapa. Uang pemberian ibu ayah kelola dengan baik sehingga ia bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung.
Tapi hal ini tidak berlangsung lama, setelah hampir setahun bekerja, tiba-tiba tidak ada kabar sama sekali dari ibu. Hampir 3 bulan lamanya. Kami sekeluarga menjadi sangat khawatir. Ayah dengan usahanya berupaya bertanya ke agen yang membawa ibu menjadi TKI di Malaysia. Tapi apa yang didapatkan? Jawaban yang diterima oleh ayah hanya membuatnya menjadi sakit. “Istri Bapak bukan menjadi tanggung jawab kami lagi, kalau mau tahu cari aja sendiri.” Ayah menjadi sangat kecewa bahkan frustasi. Ayah juga sudah berupaya bertanya ke keluarga yang diberangkatkan bersama ibu, tapi hasilnya nihil.
Ayah terlihat sangat hampa. Semenjak kejadian itu, ayah sering murung, tidak mau makan hingga penyakitnya kambuh lagi. Aku dan kak Arya sangat terpukul. Bersyukurlah kami telah dididik menjadi anak yang sabar dan tabah dalam menghadapi masalah. Kak Arya berusaha menggantikan posisi ayah, sepulang sekolah ia berusaha keras untuk mendapatkan uang dengan mencari upahan kesana kemari. Aku bertindak sebagai ibu rumah tangga dan mengurus ayah. Kami berdua selalu berusaha untuk selalu menghibur ayah dan menjadi penyemangat dalam dirinya.
Syukurlah kondisi ini tidak berlangsung lama. Ayah mulai bersemangat lagi menjalankan aktivitas sehari-harinya. Ia sudah tampak sehat. Aku dan kak Arya sangat senang. Kami sekarang bisa fokus lagi untuk menghadapi ujian sekolah kami. Ah… matahari yang terbenam sekarang muncul lagi….
* * *
“Arya, Arina, ada yang ingin ayah katakan.”
“Apa itu ayah?”
“Sudah hampir setahun kita belum mendapatkan kabar dari ibu. Ayah berniat mencarinya kesana…”
“Ke Malaysia ayah? Bagaimana dengan kami? Ayah tega membiarkan kami disini berdua? Membiarkan kami menjadi anak yang terlantar? Ayah…cukup sudah kami kehilangan ibu..dan kami tidak ingin kehilangan ayah lagi…” wajah kak Arya merah padam.
“Hanya ini yang bisa ayah lakukan,” jawaban ayah terdengar dingin dan kaku. Ayah tidak berniat membuat kalian menjadi terlantar. Ayah telah mempersiapkan segala yang terbaik untuk kalian, masa depan kalian. Ayah mohon, terimalah keputusan ini.”
“Tidak ada keputusan yang lebih baik selain tetap bersama dengan ayah dan ibu,” jawabku.
Ayah menghela nafas dan bangkit dari kursinya, meninggalkan kami berdua. Ada rasa penyesalan di hatiku setelah berkata seperti itu kepada ayah. Aku telah membuatnya terluka. Maafkan aku ayah.. aku tak bermaksud seperti itu.
Sang fajar semakin meninggi meninggalkan balik bukit. Memulai aktivitasnya sebagai penguasa bumi di siang hari, yang memberikan cahaya kehidupan di alam semesta.
Penyakit ayah kambuh lagi. Ia terbaring lemas di tempat tidurnya. Rambutnya yang mulai memutih serta badan yang semakin kurus menambah kesenduan di tubuhnya. Di samping ranjangnya tegeletak foto kami sekeluarga. Terlihat sangat bahagia. Ku harap suasana seperti itu akan terulang lagi.
“Bagaimana dengan keputusan kalian?” tanya ayah lagi.
Kak Arya masuk ke dalam kamar dengan membawa bungkusan yang berisi obat.
“Ayah tidak membutuhkan obat ini. Ayah hanya ingin kalian menerima keputusan ayah…” nada suara ayah meninggi.
“Baiklah ayah… tapi ayah harus sembuh,” pintaku.
“Bulan depan, tante Asti dan tante Ayu akan kemari. Mereka akan menjemput kalian. Ayah mempercayakan kalian pada mereka. Tante-tantemu itu orang yang baik. Oleh karena itu jangan kecewakan mereka. Ayah harap kalian berdua betah disana. Belajar dan bekerja keras. Jangan lupa membalas budi baik mereka nanti. Wujudkan impian ayah dan ibu. Satu hal lagi, jangan pernah kembali kesini sebelum kalian berhasil,” sederet nasihat yang ayah sampaikan kepada kami.
Ku pandang wajah ayah dalam-dalam. Sempat terpikir olehku, apakah selama ini ayah benar-benar menyayangi kami? Tapi aku tepis jauh-jauh pikiran itu. Ibu… andaikan kau tak pergi meninggalkan kami. Ibu… andaikan lukisan dua dimensimu selalu ada buat kami setiap bulannya. Ibu.. kembalilah. Rindukanlah sang fajar di bukit asa itu.
***
Gerimis turun membasahi seisi bumi. Ku intip fajar dari jendela, tak terlihat. Langit pun terlihat mendung. Mendung seperti hatiku. Hari ini adalah hari terakhir aku dan kak Arya berada di rumah ini. Aku hanya menatap bukit tanpa sang fajar. Setelah puas, kupandang seluruh isi rumah tanpa melewatkan satu bagianpun. Aku akan merindukan sang fajar dan bukitnya, aku akan merindukan rumah ini, jerit hatiku.
“Sudah siap,” kak Arya membuyarkan lamunanku.
“Sudah, dimana ayah?”
Ada di ruang tamu, tante Asti dan tante Ayu sudah datang. Dek, ternyata kita juga berpisah. Dan kakak minta maaf kalau selama ini kakak banyak berbuat salah.
Mataku nanar. Langsung aku memeluk kak Arya. Aku sudah kehilangan kata-kata. Tuhan.. jerit hatiku. Beginikah takdir kami. Mengapa pada akhirnya kami berpisah? Bahkan dengan saudaraku.
Aku dan kak Arya menuju ruang tamu. Kulihat tante Asti dan tante Ayu tersenyum manis kepada kami berdua.
Ku cium tangan ayah berharap dan ia akan membatalkan keputusannya itu. Ternyata hanya harapan sia-sia. Ayah memelukku dan kak Arya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Berat sekali melangkahkan kaki ini. Ku pandang bukit Asa, masih berdiri kokoh. Aku akan kembali dengan harapan-harapan ayah dan ibu yang telah menjadi nyata. Kami akan berkumpul bersama dan bernostalgia bersama fajar yang muncul di balik bukit asa. Selamat tinggal ayah, fajar, selamat tinggal bukit asa…
* * *
Aku terbangun dari lamunanku. Sang fajar sudah semakin meninggi dan berubah menjadi sang surya. Bukit di depanku ini tetaplah sebuah bukit yang kokoh dan hijau. Setia menungguku hingga aku berada disini lagi dan telah berhasil menjadi apa yang diimpikan ayah dan ibuku. Tapi dimana mereka? Kenapa belum kembali? Dan kemana kak Arya? Aku masih sendirian.
Aku ingin sekali melihat ibu dan ayah bangga padaku. Arina, seorang anak petani yang berhasil menjadi dosen FKIP termuda di sebuah universitas ternama di Kota Harapan. Aku terus menunggu dan menunggu.
Ternyata penantianku tidaklah sia-sia. Dari kejauhan aku melihat sesosok pria yang turun dari Mercedes Benz-nya. Berpakaian rapi dan terlihat sangat macho. Kak Arya, batinku membisik. Dengan senyumnya yang khas membuatku menjadi yakin kalau itu adalah kak Arya. Dan benar saja, ia langsung memelukku. Kerinduan yang bertahun-tahun terpendam akhirnya meledak juga.
Kak Arya menyodorkan sebuah sebuah amplop kepadaku. Tanpa banyak tanya langsung ku buka Aku sangat bahagia. Ada foto ayah dan ibu dengan latar belakang menara Petronas. Ternyata usaha ayah tak sia-sia untuk menyatukan kembali keluarga ini. Bahagia yang kurasakan tak terkira. Sampai-sampai aku hampir lupa untuk membaca isi surat di dalamnya. Tapi isi suratnya bukanlah berasal dari ayah dan ibu melainkan dari KBRI di Kuching.
Kuching, 28 April 2009
Kepada: Saudara Arya
di Desa Asa
Sehubungan dengan datangnya surat ini, kami pihak KBRI menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya kedua orangtua saudara dalam tragedi jatuhnya bis di jurang Damai, Kuching. Kami harap saudara diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Aku tersentak. Ya Allah.. mengapa kau tidak mengijinkan kedua orangtuaku merasakan buah dari penantiannya selama ini..Mengapa ini terjadi. Mereka telah pergi selama-lamanya meninggalkan dunia ini. Tiba-tiba pandanganku gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa lagi. Terdengar sayup-sayup suara kak Arya memanggilku dan akhirnya tidak terdengar sama sekali. Di dalam ketidaksadaran aku melihat ayah dan ibu duduk diantara kami sambil menikmati indahnya fajar di bukit Asa. Nyatakah ini…
SORE HARI DI DALAM KESENDIRIAN
Kupandangi langit sore di kotaku
CUkup indah dengan motif-motifnya
Sore di rumahku, Kota Singkawang
Aku duduk di depan pintu lantai atas
Ditemani bantal, pulpen DAN buku kecilku
Mencoret-coret apa yang ada di benakku sekarang
Terasa sangat hidup walau hanya aku sendiri manusianya
Kupandangi pohon mangga yang sudah kehilangan daun hijaunya
Kering.... tetapi tetap tegak berdiri.
Entah kapan kan berlutut di bumi
Aku... sendirian sebagai manusia
Bertemankan bantal, pulpen DAN buku kecilku
dan dimanjakan oleh angin sore yang berbaik hati tuk membelaiku
Aku rindu dengan hari-hari yang biasa ku lalui
Bersama manusia
Tapi itu bukan di kotaku
Ah.. baiknya jangan ku samakan
Kalaupun aku rindu... belum tentu manusia2 itu membalas rinduku
CUkup indah dengan motif-motifnya
Sore di rumahku, Kota Singkawang
Aku duduk di depan pintu lantai atas
Ditemani bantal, pulpen DAN buku kecilku
Mencoret-coret apa yang ada di benakku sekarang
Terasa sangat hidup walau hanya aku sendiri manusianya
Kupandangi pohon mangga yang sudah kehilangan daun hijaunya
Kering.... tetapi tetap tegak berdiri.
Entah kapan kan berlutut di bumi
Aku... sendirian sebagai manusia
Bertemankan bantal, pulpen DAN buku kecilku
dan dimanjakan oleh angin sore yang berbaik hati tuk membelaiku
Aku rindu dengan hari-hari yang biasa ku lalui
Bersama manusia
Tapi itu bukan di kotaku
Ah.. baiknya jangan ku samakan
Kalaupun aku rindu... belum tentu manusia2 itu membalas rinduku
Minggu, 29 Mei 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


