Rabu, 10 Februari 2016

BALI, PULAU BERJUTA PESONA

Bali. Hampir semua orang mengenal pulau ini. Pulau paranya dewa yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Pulau yang terkenal dengan tempat wisatanya yang indah mempesona. Banyak wisatawan domestic maupun mancanegara menunjuk Bali sebagai tempat liburan yang nyaman dan aman.

Terlau banyak foto foto yang terpampang nyata di google dan medsos tentang keindahan Bali membuatku klepek-klepek ingin menginjakkan kaki ke Pulaunya Ngurah Rai itu. Padahal tahun 2010 aku sudah pernah kesana. Berhubung dulu hanya mampir sebentar dan tidak banyak tempat yang dikunjungi maka aku harus mengulang untuk keduanya. Mumpung di Pulau Jawa pikirku. Bersama Ros, Kak Miya dan Pita, kumantapkan diri untuk jalan-jalan tipis ke Bali. Berharap dengan dana di bawah 1 juta kami dapat mencapai tempat-tempat yang menarik. Maklumlah masih mahasiswa, pendapatan juga tidak ada selain mengharapkan amunisi M 750 alias biaya hidup dari beasiswa :D So, disinilah perjalanan dimulai.

B Senin, 21 Desember 2015
Dengan terpaksa aku bangun pagi. Maklum katanya si bang taksi mau jemput jam 03.00 WIB. Bayangkan… aku yang biasanya bangun jam kesiangan harus dipaksa bangun kepagian.. hadeh.. dengan tubuh seperti zombie kupaksakan diri ke kamar mandi, cuci muka dan sikat gigi tanpa mandi :D. Ku pikir tu si abang agak gendeng, masa sih kereta api berangkat jam 04.35 WIB tapi jam 03.00 sudah mau di jemput?? Padahal dari Asrama Putri Unesa ke Stasiun Wonokromo hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Aku sempat berpikiran buruk, sepertinya si babang mau bawa kita muter-muter biar bayaran mahal.

Tiket Kereta Surabaya-Banyuwangi
Tepat jam 03.00 si babang sudah nunggu depan masjid Unesa. Taksi pun meluncur dengan cepatnya. Di jalan si babang mulai mau melancarkan aksinya. Taksi diarahkan ke jalan yang kalo diukur oleh argometer pasti ongkos taksinya lebih mahal. Dengan sigap, Pita, temanku yang udah kenal Surabaya sejak kuliah S1 mengarahkan si babang untuk ambil rute yang seharusnya. Bersyukur si babang mau. Kalo gak pasti kami tabokin tu si babang :D emang berani ya?? Hahahaha. Alhamdulillah perjalanan menuju Stasiun Wonokromo lancar. Jam 03.35 kami sudah sampai dan merogoh kocek sebesar Rp 57.000.

Kereta apinya Bersih dan teratur (Photo by Rose)
Ternyata jam 03.35 itu keawalan banget. Stasiun masih tutup. Nih gara-gara si babang pikirku. Kalo tau gitu, kan masih bisa tidur setengah jam lebih lama. Mana gak ada kursi di luar. Jadilah kita seperti anak jalanan, yang menunggu di tepi jalan :D. Stasiun baru dibuka pukul 04.20. Lumayan tegang si kaki ni. Begitu stasiun dibuka kita langsung check in dan mencari musholla. Syukurlah masih ada waktu untuk sholat. Jam 04.40 kereta Probowangi yang kami tunggu akhirnya tiba. Kereta yang tiketnya telah kami beli 17 hari sebelum keberangkatan ini lumayan murah, hanya Rp 68.000 untuk perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 7 jam. Perjalanan menggunakan kereta api emang sangat nyaman dan aman. Walaupun perjalanan jauh tapi tidak terasa capeknya. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu dimana banyak penumpang berdiri, sempit, rawan copet, belum lagi terganggu oleh pengamen dan penjual yang datang silih berganti. Sekarang semuanya telah berubah menjadi lebih baik. Harus kepada siapa aku berterima kasih?? Hahahaha. Sayang ni alat transportasi belum ada di Kalbar. Kapan ya baru ada?? #Denger-denger mau dibikin… asyiiiik :D

Jam 11.50 kereta tiba di Stasiun Banyuwangi Baru. Berjalan kurang lebih 20 menit kita sampe di Pelabuhan Ketapang. Cukup membayar Rp 7,000,- per orang untuk menyeberang dari Pelabuhan Ketapang  menuju Pelabuhan Gilimanuk. Sampe deh kita di Bali
:D. 
Penyeberangan dari Ketapang-Gilimanuk memakan waktu kurang lebih 40 menit.
Pelabuhan Ketapang


Saat kapal bersandar di pelabuhan, banyak calo-calo yang menawarkan jasa. Setelah tawar menawar harga kita akhirnya mendapat bis yang katanya bisa Rp 30.000/orang untuk bisa sampe ke Denpasar. Eh, ternyata kita dibohongi gitu. Setiba di bis drivernya malah minta harga Rp 35.000. Yah.. karena sudah terlanjur dan tawar menawar kita tak berhasil akhirnya kita ikuti kemauan si driver. Udah gitu, masih menunggu dan cari penumpang lagi. Setelah 1 jam terkatung katung di terminal kita akhirnya mau naik bis lain bersama dengan 1 orang kakek yang udah kelelahan menunggu. Eh si drivernya lihat kita mau pindah dan memutuskan berangkat saat itu juga. Dasar si driver tukang tipu, baru jalan 200 meter dr terminal, dia menghentikan bisnya dan nunggu lagi kurang lebih 1 jam.. Emang sama sekali gak bisa dipercara ni orang. Karena kesal nunggu terlalu lama, aku pun turun dan bertanya kenapa tidak langsung jalan. “Rugi” itulah jawaban si driver. Rugi jika penumpang gak penuh. Oalah… kulihat kakek yang sudah kelelahan itu hanya memandangi si driver dengan tatapan tajam. Kelihatannya dia kesal banget. Bis baru jalan lagi setelah menunggu kurang lebih 1 jam. Kesal sudah pasti. Tapi karena ini pengalaman pertama, ya… tak terlalu masalah :D Ambil hikmahnya. Keep positif thinking. Hehehe.

Perjalanan menggunakan bis ini tidaklah seasyik kereta api. Tapi ya sudahlah.. Habis kalo pake pesawat lebih mahal. Untung untung ada ni bis :D Kurang lebih 4 jam kami tiba di tepian Terminal Ubung. Karena tujuan kami adalah daerah Tanjung Benoa, jadi kami harus menginap 1 malam di Denpasar berhubung bis menuju ke Tanjung Benoa sudah tidak beroperasi jika malam. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap 1 malam di
Hotel Viking. Only one night, but enough
penginapan. Dengan bantuan seorang teman kami menginap di Hotel Viking yang beralamat di Jalan Diponegoro 120 Denpasar. Harga 75 ribu per malam adalah tarif yang paling murah di hotel itu. Berhubung yang termurah itu sudah di booking, akhirnya kami mendapatkan kamar dengan tarif Rp 150.000,-. Alhamdulillah ya dibayarin oleh teman yang baik hati itu. :D.. Thanks ya.. yeyeyeye. Kita pun bisa beristirahat untuk mempersiapkan stamina menuju Tanjung Benoa.

B Selasa, 22 Desember 2015
Setelah mandi dan packing untuk perjalanan selanjutnya, kami memutuskan untuk mencari tempat penyewaan motor untuk menuju Tanjung Benoa. Menelusuri jalan Kota Denpasar untuk mencari tempat sewa ternyata agak susah. Saat bertanya banyak yang menjawab dengan ketus. Tapi ada juga yang ramah. Akhirnya kami menemukan tempat sewa motor dari informasi yang kami dapatkan dari ibu-ibu penjual kue. Sayangnya motor yang ingin kami sewa sudah kurang bagus dan harganya mahal. Dipatok harga Rp 50.000,- per hari, padahal motornya motor grand lama. Karena bingung harus mencari kemana lagi sedangkan kami sudah berjalan jauh dari hotel akhirnya aku menghubungi temanku itu. Alhamdulillah di dekat kosnya ada tempat penyewaan motor yang lumayan murah yaitu Rp 35.000 per hari. Kami berempat pun berbagi tugas. 2 orang mengambil motor, dan 2 orangnya lagi pulang ke hotel untuk check out. Kami pun menyewa motor selama 3 hari untuk jalan-jalan menuju tempat yang ingin dikunjungi. Daaaan… perjalanan panjang pun dimulai… Go… Riderrrrr… :D :D  Go Strong girls!!!!
Kak Miya and the rider (Aku) hehehe

Melewati Tol Bali Mandara adalah pengalaman bermotor yang paling menyenangkan. Tol yang menghubungkan Tanjung Benoa, Nusa Dua dan Ngurah Rai ini adalah tol terapung pertama di Indonesia yang membentang sepanjang 12,7 km di atas laut. Tol ini mempunyai pemandangan yang sangat indah dan udara laut yang sangat segar. Tarif masuk tol adalah 4.500 rupiah per motor.



Tol Bali Mandara












Kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Tanjung Benoa. Kami pun mencari kos nya adik Ros, Kiki, untuk menginap. Lumayan, selain silaturahmi, kita juga mendapat tempat menginap gratis. Xixixixixi. Setelah beristirahat beberapa jam dan energi sudah bertambah, kami memutuskan untuk langsung jalan-jalan. Tujuan kami adalah Uluwatu. Berbekal Google Map dan Google manual (Bertanya ke orang-orang, hehehe) kami dengan pedenya menuju daerah sasaran. :D. Baru beberapa menit di perjalanan, kami berempat di bantai hujan. Mana tidak ada mantel lagi. Karena tidak mau waktu yang ada terbuang sia-sia, kami tetap melanjutkan perjalanan. Pantang bagi kami untuk pulang dengan basah kuyup tanpa membawa apa-apa. #malunya… Syukurlah hujan pada saat itu tidak permanen. Alhamdulillah akhirnya pakaian di badan kering sendiri… Terima kasih angin… Xixixixi.

Ikon GWK :D
Sebenarnya untuk menuju Uluwatu tidaklah begitu jauh. Jarak antara Tanjung Benoa ke Uluwatu hanyalah 24 km yang memakan waktu 45 menit (Versi Google map). Namun karena kami masih asing dengan daerah itu maka waktu yang dibutuhkan hampir 2 jam. Selain masih asing, ternyata ada tempat yang menarik untuk disinggahi. GWK. Walaupun tidak masuk ke GWK, namun tulisan GWK itu sendiri mempunyai daya magnet sehingga membuat kami tidak mampu menahan diri untuk berfoto. Hahahaha.

Setelah puas berfoto, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan menuju Uluwatu sangatlah tidak membosankan. Banyak hal yang bisa dilihat di sisi kiri kanan jalan. Sayang, karena saya ridernya jadi cuma bisa lirik sekali-kali. Ntar kalo gak focus bisa bahaya bro.. hehehhe.

Akhirnya pukul 15.36 kami tiba di gerbang obyek wisata Uluwatu yang berlokasi di desa Pecatu. Bahagia semakin bertambah saat baju di badan ternyata sudah kering. Hahahaha.
Gerbang Uluwatu
Kami pun langsung menuju tempat pembelian tiket. Harga tiketnya adalah Rp 20.000/orang. Selain berkewajiban untuk membayar tiket masuk, semua pengunjung juga diwajibkan untuk memakai kain ungu bagi yang menggunakan bawahan pendek dan cukup menggunakan sabuk kuning untuk pengunjung yang memakai celana/rok panjang. Setiba disana aku takjub melihat pemandangan di Uluwatu. Masya Allah… bak musim semi bunga yang berwarna merah bermekaran (gak tau nama tanamannya apa). Dalam jumlah yang sangat banyak itu menambah pesona Uluwatu.
Spring ala Uluwatu
Selain itu pesona matahari terbenam, ombak laut yang indah serta tebing tebing yang kokoh menambah keindahan bagi mata yang memandang. Jadi tidak heran banyak sekali wisatawan domestic dan mancanegara yang berkunjung kesini. Ada hal yang unik sekaligus menakutkan bagiku adalah kenakalan monyet-monyet di Uluwatu. Disini banyak sekali monyet yang berkeliaran. Monyet monyet nakal itu tidak segan untuk mengambil barang pengunjung yang lengah. Bahkan aku dan Pita mengalami kejadian yang tidak
Tebing dan ombak yang menakjubkan


Naughty Monkey
mengenakkan. Tali tas Pita putus di tarik si monyet itu. Begitu juga dengan kameraku hampir di ambil si monyet. Pake acara maksa lagi tu si monyet. Jadinya aku main tarik tarikkan sama si monyet yang memaksa dan menakutiku dengan memperlihatkan giginya yang tajam. Hahahaha. Bahkan aku melihat seorang nenek wisatawan luar negeri diambil kacamatanya. Sungguh luar biasa nakal monyet Uluwatu ini. Jadi, bagi yang ingin berkunjung ke Uluwatu diharapkan untuk waspada terhadap barang-barang yang dibawa.
 
New friends
Spring oh Spring.. 
Sekilas tentang Uluwatu

Pura Uluwatu dan Sunset


B Rabu, 23 Desember 2015
Destinasi selanjutnya adalah Peninsula Island dan Water Blow. Tempat wisata ini terletak di kawasan elit. Biarpun berada di kawasan elit, masuk ke tempat ini gratis bro… hehehe
Prasasti Peninsula Island :D
. Parkir juga gratis. Pokoknya serba gratis. :D


Disini mata kita sangat dimanjakan oleh indahnya pemandangan laut dengan pasir putih yang halus plus gazebo di sepanjang pantai. Lapangan luas yang berumput hijau menambah segarnya mata bagi yang memandang. Di tengah lapangan itu terdapat patung Rama dan Shinta. Sebenarnya tujuan utama kami adalah Water Blow. Pengen sekali melihat air laut yang menyembur ke udara dengan dentuman ombak yang memecah karang. Sayang waktunya tidak tepat. Kami hanya melihat onggokan karang tanpa air yang menyembur keluar. Sedikit kecewa memang. Walaupun begitu kami sangat menikmati pemandangan disini.
Lapangan rumput dan patung Rama Shinta
Waterblow Gate
Batu karang dan gelombang tempat munculnya water blow

Take a deep breath and feel the sensation

Pasir putih yang lembut dan deretan gazebo

We are happy here
I am happy here

How beautiful you are




 



Sisi kiri dan kanan jalan adalah tebing kapur
Puas berjalan di Peninsula, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Pandawa yang masih berada di Bali Selatan tepatnya di Desa Kutuh Kabupaten Badung. Perjalanan menuju pantai ini agak menyeramkan. Bagi aku sih, maklum aku paling takut mengendarai motor yang medannya mendaki dan menurun. Sisi kiri dan kanan jalan adalah tebing-tebing kapur. Namun, matamu tidak akan bosan memandang pemandangan laut dari
ketinggian. 
Laut biru yang indah dan hamparan  pasir putih yang lembut. Benar-benar mmemanjakan bagi mata yang memandang. Sebelum memasuki kawasan pantai, kita dipertontonkan dengan tebing-tebing kapur di pinggir jalan yang dipahat sedemikian rupa. Bahkan di dinding tebing ditempatkan beberapa patung Pandawa yang menambah kekaguman bagi pengunjung yang melihatnya. Untuk masuk ke pantai ini cukup dengan merogoh kocek Rp 5.000/orang dengan biaya parkir Rp 2.000,-/motor. Jangan lupa untuk membawa topi dan kacamata hitam karena panas sangat menyengat di pantai ini. Tapi jangan khawatir kalo Anda tidak membawanya karena banyak kios yang menjual topi, kacamata dan aksesoris lainnya di sepanjang pantai.
Salah satu patung Pandawa yang ditempatkan dalam tebing
Tulisan Pantai Pandawa menempel dengan gagahnya di tebing

Warung makan seafood berjajar dengan rapi dan kondisi jalan yang sangat bersih

Salah satu aktivitas yang dapat kamu lakukan disini adalah canoeing

Tempat wisata yang sangat menjanjikan

Ingin aktivitas yang lebih menantang? Ayo coba paralayang

Area parkir yang luas
Amazing Pandawa
Setelah menikmati indahnya Pandawa, kami melanjutkan perjalanan  ke Pantai Kuta. Kami sedikit mengalami kesulitan untuk mencapai pantai ini karena HP yang kami 
Pantai Kuta.. the icon of Bali
andalkan sebagai peta perjalanan mati semua. Akhirnya kami menggunakan GPS mulut. Hehehe. Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke Pantai Kuta. 

Menurutku Kuta tidaklah seindah Pantai Pandawa dan Peninsula. sebelumnya aku juga pernah kesini tahun 2010. Namun karena kata orang belum sampe ke Bali kalo belum ke Kuta, jadi kita merasa berkewajiban untuk mengunjungi si Kuta. Hehehehe. Kuta yang terkenal
Tetap rame walaupun mendung
dengan sunsetnya ini tidak menunjukkan sisi indahnya pada waktu itu karena langit yang mendung. Karena semakin sore, kami pun meninggalkan Kuta menuju Jogger untuk berbelanja bagi yang masih punya persenan di dompetnya. Bagi yang dompetnya kosong cukup dengan window shopping. Hahahaha. Setelah puas dengan shopping, saatnya kembali ke peraduan. Perjalanan antara Jogger dan Tanjung Benoa memakan waktu kurang lebih 40 menit perjalanan waktu GPS. Namun di kenyataannya karena para rider belum menguasai medan maka waktu perjalanan menjadi kurang lebih 1,5 jam. Hahaha.  
Lokasi Hard Rock Cafe depan Kuta




Kamis, 24 Desember 2015
Pukul 06.00 WITA kami berempat meninggalkan Tanjung Benoa dan melanjutkan destinasi berikutnya yaitu Danau Bedugul/Beratan dan Tanah Lot. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Danau Beratan. Walaupun perjalanan cukup jauh namun kami tetap semangat demi
Maha karya seni pahat Bali
melihat indahnya Pura Ulun Danau Beratan yang terdapat pada uang Rp 50.000. Hehehehe. Di perjalanan kami menemukan objek yang indah yaitu Patung Rama dan Shinta yang sedang menaiki kereta kuda dan dikawal oleh 2 orang pengawalnya. Keindahan patung itu membuat aku kagum akan orang Bali yang super kreatif dalam seni pahat.
Rama dan Shinta
Lahan parkir yang luas dengan latar belakang perbukitan
Kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Danau Beratan. Udara yang segar dan pemandangan yang indah membuat aku secepat mungkin memarkirkan motor dan masuk ke kawasan tersebut. Seperti biasa membeli karcis dengan harga Rp 10.000/orang dan parkir Rp 2.000/motor.  Di Danau Bedugul ini kita bisa menikmati indahnya pemandangan danau dan megahnya Pura Ulun Danau Beratan. Saranku kalo mau kesini sebaiknya di waktu pagi. Biar gak terlalu rame dan udaranya masih seger banget. 

Perahu yang disewakan untuk mengitari danau
Indahnya Pura Ulun Beratan
Senang bisa berada disini

Green and Fresh
Banyak bunga bunga
Unforgettable moment
Pedagang menawari untuk mencicipi buah strawberrynya
Puas menikmati indahnya si Beratan, kami langsung menuju Kebun Raya Bali. Berhubung mengitari kebun raya itu memerlukan waktu yang cukup lama, kami memutuskan untuk tidak masuk dan hanya berfoto di luarnya saja. Di luar kebun raya banyak sekali pedagang menjual buah strawberry. Ternyata di samping kebun raya adalah kebun strawberry. Tanpa membuang waktu kami langsung menuju kebun strawberry berharap dapat membeli buah segar dengan memetik langsung. 




Strawberry yang sudah di kemas
Tapi sayang pada saat itu hanya sedikit buahnya yang masak. Akhirnya pemilik kebun, tidak bisa menjual dan si bli yang baik hati memberikan buah gratis kepada kami. Walaupun tidak banyak tapi kami sangat senang bisa makan buah yang segar dan di petik langsung.
Di samping plank ini ada gang menuju kebun strawberry
Bli yang baik hati dan kebun strawberrynya
Aku baru pernah melihat kebun strawberry secara langsung :D
Hasil panen buah. This is it

Tidak apa gak masuk ke KRB, gerbangnya aj udah cukup. :D
Diantara bunga-bunga yang bermekaran
Kami tidak berlama-lama di kebun strawberry karena hari semakin siang. Melanjutkan perjalanan ke Tanah Lot adalah lebih baik untuk menghemat waktu. Kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Tanah Lot. Dengan membayar Rp 10.000/orang kita bisa menikmati keindahan tanah lot yang terletak di pedesan Beraban Kabupaten Tabanan.
Pura Batu Bolong

Pantai di kawasan Pura Bolong

Banyak pura disini

Tempat yang asyik untuk santai plus view laut

Banyak hasil lukisan seniman Bali yang apik apik tenan

Pura Luhur Tanah Lot

Aceh-Magetan-Kalimantan Barat-Aceh. 4 Dara Sm3T. Hehehe
Pulang dari Tanah Lot kami langsung cari penginapan di kawasan Terminal Ubung. Alhamdulilah kami mendapat penginapan dengan tarif lumayan murah yaitu Rp 100.000. Kami memilih lokasi ini berhubung teman-temanku pulang ke Surabaya dengan menggunakan bis. Sedangkan aku masih tetap di Bali untuk mengunjungi salah satu teman yang kuliah di Pulau Dewata ini. Destinasi Tanah Lot adalah destinasi terakhir dari perjalanan kami berempat. Ntah kapan bisa jalan-jalan bareng. Akan merindukan semua moment ini. It will be unforgettable moment ever. I will miss you, guys... 

Sabtu, 26 Desember 2015
Aku dan temanku mengunjungi Pantai Sanur. Sekilas Pantai Sanur mirip dengan Pantai Pasir Panjang yang terletak di kotaku, Singkawang. Warna pasirnya kekuningan dan agak kasar. Hanya saja Pantai Sanur di kemas dengan cukup apik sehingga menarik wisatawan domestic dan mancanegara untuk mengunjunginya.
Airnya dangkal kok, jadi kita bisa berjalan menuju pulau ini

Lama tidak ketemu akhirnya kita bisa jalan bareng lagi walaupun ini menjadi yang terakhir



Tenang dan terasa damai







Tempat yang patut di kunjungi juga selain tempat wisata alam adalah Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang biasa di sebut dengan Bajra Sandhi. Monumen yang terletak diKota Denpasar ini merupakan karya arsitek Ida Bagus Gede Yadnya. Kebetulan aku masih mahasiswa maka dengan Rp 3.000 aku bisa menikmati pesona Bajra Sandhi, sedangkan untuk umum dikenakan biaya Rp 10.000/orang. Adapun tujuannya adalah untuk mengenang perjuangan rakyat Bali. Monumen ini terdiri dari 3 lantai yaitu:
  1. Lantai dasar disebut dengan Nistaning Utama Mandala. Disini terdapat ruang informasi, perpustakaan, administrasi dan toilet. Di tengah-tengahnya terdapat kolam yang disebut dengan Puser Tasik. Untuk menghubungkan lantai 1 sampe terakhir terdapat tangga yang dinamakan Tangga Tapak Dara yang berjumlah kurang lebih 70 anak tangga.
    Bajra Sandhi
  2. Lantai kedua disebut dengan Mandyaning Utama Mandala. Disini terdapat cerita mengenai sejarah Bali dari zaman purba hingga masa mempertahankan kemerdekaan. Terdapat diorama yang berjumlah 33 buah yang menggunakan 3 bahasa yaitu bahasa Bali, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
  3. Lantai ketiga atau lantai paling atas disebut dengan Utamaning Uta ma Mandala. Tempat ini sangat cocok untuk melihat suasana Kota Denpasar yang begitu indah.      
Halaman depan Bajra Sandhi


Bajra Sandhi dari samping



Ada yang prewed disini
Kota Denpasar dari atas Bajra Sandhi

Tangga Tapak Dara


Puser Tasik
Apik tenan
Waktu 2 hari bertemu teman lama terasa sangat singkat. Aku terpaksa pulang ke surabaya karena akan diadakan Ujian Lokal. Padahal ingin sekali menghabiskan tahun baru di Bali bersamanya. Aku memilih travel untuk perjalanan pulang kali ini dengan biaya Rp 200.000. Lumayan murah karena pelayanannya bagus plus air minum, roti dan makan malam sudah termasuk dalam harga tersebut.  Demikian perjalanan ku dan ketiga temanku selama beberapa hari di Bali. Masih banyak sekali tempat yang belum dikunjungi. Mudah-mudahan suatu saat dapat menginjakkan kaki di pulau  seribu pura itu. Sungguh tak akan pernah bosan menikmati keindahannya.  Semoga pesonamu tidak akan pernah pudar hingga akhir dunia ini. Bali.. I am in love. See you next time…

Rangkuman biaya perjalanan Surabaya-Bali 
Transportasi :
Kereta api Surabaya-Banyuwangi : 68.000
Penyeberangan : 7.000
Bis Gilimanuk-Denpasar : 35.000
Sewa motor : ada yang 35.000/hari
Travel Bali-Surabaya : 200.000

Penginapan : Mulai dari 75.000

Tiket masuk tempat pariwisata
- Uluwatu : 20.000,- plus parkir 2.000
- Pandawa :5.000,- plus parkir 2.000
- Bedugul/Beratan : 10.000,- plus parkir 2.000
- Tanah Lot : 10.000,- plus parkir 2.000
- Bajra Sandhi : mahasiswa : 3.000,- umum : 10.000,-
- Peninsula dan Water Blow : Gratis
- Pantai Kuta :Gratis, Parkir 4.000,-
- Pantai Sanur : Gratis plus parkir 2.000,-

Harga makanan di Bali variatif. Kebanyakan di atas Rp 10.000 per porsi

Demikian, semoga bermanfaat. :) 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar